Taubat dengan Migrasi ke Linux

Anda pengguna sistem operasi Windows? Boleh saya tahu, apakah Anda memiliki lisensi atas sistem operasi Anda? Ataukah Anda menggunakan produk dari meng-crack (membajak)? Baiklah, Anda jawab sendiri. Kemudian, jika Anda menggunakan sistem operasi Windows, selahkan cek aplikasi yang Anda gunakan, mungkin ada beberapa aplikasi yang “seharusnya” berbayar? Dari mana Anda dapatkan? Download? Lagi-lagi, beserta trik cracking-nya? Jika Anda ingin taubat, bolehlah lanjutkan membaca artikel ini.Menggunakan produk bajakan di Indonesia memang sudah menjadi hal wajar, bukan hal tabu. Meski demikian, bukan berarti tindakan membajak itu dibenarkan. Dilihat dari sisi mana pun tidak ada alasan yang cukup bijak untuk membenarkan pembajakan. Mungkin, bisa dibayangkan ketika Anda sebagai pemilik produk tersebut, anda menjualnya, sedangkan orang lain dengan seenaknya menggunakan tanpa perlu membeli di Anda, bagaimana rasanya?

Sedikit berbicara tentang “api”. Kok api? Ya, kata peribahasa, tidak ada api maka tidak ada asap. Begitu juga dengan kebiasaan membajak di negeri ini. Alasan mendasar mengapa orang di Indonesia adalah karena 2 hal, pertama budget terbatas sementara harga software memang lumayan mahal (baca: sesuai dengan fungsi dan fiturnya), kedua adalah karena di mindset orang Indonesia membajak itu adalah hal biasa, tak mengapa dan boleh-boleh saja. Terlebih hal itu didukung dengan begitu banyak resource di internet yang dapat dengan mudah didapat. Hanya dengan men-download, melakukan beberapa trik, software yang berharga jutaan rupiah dapat langsung terpasang di perangkat komputer tanpa perlu membayar sepeser pun.

Pola pikir membajak adalah hal wajar sebenarnya didapat dari pengalaman hidup seseorang, dimulai dari masa awal mengenal komputer, sampai dengan mempelajarinya. Satu titik temu yang tidak boleh kita hiraukan adalah “sekolah”.
Sekolah menjadi alasan pertama yang harus bertanggung jawab seharusnya. Seperti yang kita tahu, sampai saat ini masih banyak sekolah yang menggunakan produk tidak berlisensi sebagai alat kegiatan belajar mengajar (KBM). Siswa diajarkan untuk menggunakan produk bajakan, dan pola pikir yang kemudian terbangun di mindset siswa adalah membajak itu adalah hal wajar, atau malah disebut ilmu. Woh, ilmu pembajakan? -_-

Hampir seperti orang pada umumnya, sekolah terpaksa menggunakan produk bajakan karena alasan keuangan. Harga software yang terlalu mahal memaksa pihak sekolah untuk membajak agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.

Sebenarnya hal ini dapat diatasi dengan migrasi ke Linux. Seperti yang kita tahu, Linux merupakan kernel yang kemudian dikembangkan oleh banyak sekali komunitas sehingga memunculkan beragam distribusi atau distro. Linux bersifat freeware, dan opensource (Lebih jelas coba cari di google “Linux License” ). Kita dapat bebas menggunakannya, memodifikasi, mengembangkan dan mendistribusikannya. Tidak heran, banyak sekali distro yang sekarang bertebaran.

Andai kata, sekolah-sekolah di Indonesia mau menggunakan Linux mungkin pembajakan akan sedikit berkurang. Hal tersebut harus diiringi dengan memberikan pemahaman kepada siswa.

Paling tidak Linux bisa menjadi alternatif, ketika memang sekolah tidak mampu membeli software berbayar beserta lisensinya. Karena yang saya bahas disini bukan harus menggunakan Linux, tetapi pembajakannya, sehingga tidak masalah juga kalau mau menggunakan Windows, asalkan jangan bajakan.

Mungkin yang akan menjadi kendala berikutnya adalah tenaga IT disekolah belum mengerti soal Linux. Hal itu tidak menjadi masalah, karena semua hal bisa dipelajari.

Di Linux, banyak sekali software alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti software-software di Windows. Misalnya, Microsoft Office kita dapat menggantikannya dengan WPS Office Comunity edition yang secara tampilan tidak jauh berbeda dengan Ms. Office. Atau Libre office, dan lainnya. Photoshop dengan GIMP, CorelDraw dengan Inkscape, dan banyak sekali lainnya.

Tidak hanya untuk sekolah, tapi juga untuk setiap individu yang membaca artikel ini. Yang namanya menjadi lebih baik itu tidak bisa “ujug-ujug” jadi. Butuh proses, jika ingin menjadi pengguna Linux mungkin butuh waktu menyesuaikan, dan ketika memang ingin bertahan di Windows, mungkin tetap harus merencanakan bahwa suatu saat kita memiliki Windows dengan semua aplikasi didalamnya adalah tidak bajakan.

Ditulis oleh Sutriman (dengan beberapa perubahan).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s